A CHILD

cereal volume9_07

SATU

Angin kencang menyapu jalanan yang sudah tertutup tebal salju musim dingin tahun ini yang seharusnya sudah berganti musim sejak satu bulan yang lalu. Entahlah, bebebrapa tahun terakhir cuaca di beberapa Negara di belahan dunia ini sulit di predksi, mungkin bumi sudah terlalu tua dan kita lalai menjaganya. Sejak tadi pagi salju terus turun menutupi pohon dan gedung-gedung yang menjulang tinggi di kota Seoul, meskipun begitu tidak lantas membuat aktifitas masyarakat kota tersbut menjadi terhenti. Seoul merupakan salah satu kota tersibuk di dunia, setiap hari dan setiap waktu kota itu tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan ataupun orang yang berjalan entah itu penduduk local ataupun wisatawan. Mungkin di jam-jam tertentu saja keramaian orang mulai berkurang dibanding dengan kendaraan, biasanya setelah jam 01.00 KST namun toh tetap saja masih ada segelincir muda-mudi yang nongkrong di kedai-kedai kopi pinggiran jalan. Terlebih jam-jam sibuk seperti sekarang saatnya jam pulang kantor, volume kendaraan meningkat dan trotoar jalan penuh dengan lalu lalang orang berjalan. Meskipun begitu, kota itu selalu lolos dari kata macet yang biasanya menjadi masalah utama kota besar dengan aktifitas masyarakatnya yang sibuk. Selain memang pemerintah nya yang pandai mengatur struktur jalan dan kebijakan-kebijakan lainnya mengenai penggunaaan jalan, kendaraan pribadi dan kendaraan umum masyarakat sana juga memiliki kesadaran cukup tinggi untuk tidak secara egois menggunkaan kendaran pribadi yang memenuhi jalanan kota. Mereka lebih menyukai jalan kaki jika jarak yang mereka tempuh tidak terlalu jauh. Jika mengharuskan menggunakan kendraan umum pun mereka dengan senang hati karena keamanan, kenyamanan dan keselamatan serta fasilitas penumpang di kota itu sangat terjamin. Seoul memang merupakan kota yg cantik, terletak di daerah perbukitan serta di kelilingi oleh beberapa sungai dan mempunyai sejarah dan kebudayaan yang tidak pernah ditinggalkan masyarakatnya. Faktor2 ini sangat menunjung potensi wisata dan rekreasi, karena ternyata elemen-elemen estetis perkotaan kota Seoul mempunyai karakteristik tertentu di bandingkan kota-kota lainnya di dunia. Untuk itu, pemerintah kota Seoul memprioritaskan untuk mengembangkan elemen-elemen tersebut sesuai dengan perkembangan trend serta juga tetap memperhatikan keserasian dan keaslian lingkungannya. Perwujudan pengembangan elemen-elemen estetika tersebut, terlihat dengan banyak di bangunannya monument-monumen serta symbol-simbol yang terpasang di sepanjang jalan yang saat ini hamper tertutup salju. Beberapa symbol di tengah kota menjadikan Seoul salah satu kota yang cantik dan mempertahankan image tradisionalnya. Justru, bangunan tua di tengah jalan di Seoul, para urban desainernya membuat ‘monumen’ untuk elemen estetis tradisional. Beberapa bangunan tradisional seperti ini di buat dan di desain sebagai tempat melepas lelah di taman. Semuanya tidak hanya untuk itu, tetapi juga sebenarnya untuk ‘focus of interesting point’ sebagai bagian dari kota2 tua yg bersejarah.

Butiran salju kembali turun dengan volume yang lebih banyak membuat masyarakat kota yang tadinya santai berjalan jadi sedikit mempercepat laju jalannya, sebagian ada yang setengah berlali. Angin pun semakin kencang membuat udara kota tersebut semakin dingin -9 derajat Celcius. Diantara orang yang berlarian menyelamatkan diri dari hembusan angin kencang dan salju tersebut nampak seorang perempuan berparas cantik dengan bentuk badan yang menjulang tinggi bak model menggunakan mantel tebal dan shall untuk membalut tubuhnya yang ramping. Perempuan itu bernama Jesika jung, perempuan cantik berdarah Indonesia Korea yang menuruni ras orang Jawa dengan warna kulit yang berbeda dengan kebanyakan orang Korea. Dia memiliki warna kulit kuning langsat bukan putih pucat, rambutnya terurai panjang hitam pekat seperti layaknya orang Indonesia, hanya saja mata hidung dan bentuk wajahnya yang menuruni ras ayahnya orang asli Korea. Dia nampak mempercepat jalannya bahkan sedikit berlari untuk menghindari salju yang semakin deras berjatuhan. Tangannya merapatkan mantel dan shall untuk sedikt menghangatkan badan kemudian memasukan kedua tanggannya di saku mantel kiri dan kanan. Sebentar lagi sampai ke tempat yang dituju sejak tadi berjalan dari halte bus. Langkahnya terhenti di salah satu rumah sakit terbesar di kota ini, Asan Medical Center. Dia sedikit ragu untuk melangkahkan kembali kakinya memasuki bangunan super mewah itu yang justru lebih tepat di bilang mall dari pada rumah sakit. Tapi dia harus masuk dan menemui pemilik gedung, ya pemilik gedung atau lebih tepatnya anak pemilik rumah sakit ini. Asshh entahlah siapapun itu, yang pasti dia ingin menemui kekasihnya, Park Chanyoel. Dia harus menemui laki-laki yang sudah hampir 7 tahun ini memacarinya untuk menjelaskan sesuatu. Laki-laki itu marah kepadanya karena tidak mengijinkan Jesika untuk pergi ke Busan selama 3 hari untuk kegiatan amal di kampusnya. Udara yang semakin dingin dan salju yang semakin banyak berjatuhan mendesak dia untuk segera mengambil keputusan masuk atau tidak. Jika tidak maka pertengkaran mereka tidak akan selesai dan Chanyoel akan terus mengacuhkannya, jika dia masuk dan menjelaskan sekarang dia takut mengganggu kesibukannya dan akan tetap acuh dengan penjelasaanya maka akan sia-sia. Sebelum Jesika memutuskan untuk datang ke rumah sakit itu dia sempat menelfon sekertaris Chanyoel dan menanyakan keberadaan laki-laki itu serta jadwalnya hari ini. Dari sekertaris itu Jesika tau bahwa saat ini Chanyoel sedang sibuk dengan beberapa petemuan dari beberapa rekan bisnisnya. Asshh apapun tanggapan dia, aku harus menjelaskannya. Putus gadis itu kemudian dengan mantap melangkahkan kakinya memasuki gedung yang dari tadi ditatapnya kemudian dengan cepat mencari lift yang akan membawanya ke lantai 25 dimana Chanyoel ada di sana. Lima menit berikutnya dia sudah ada di lantai 25 dan dengan tergesa-gesa menuju meja receptionis. Ya rumah sakit ini memiliki 2 loby receptionis, satu untuk pelayanan rumah sakit di lantai dasar dan satunya lagi khusus untuk managemen rumah sakit ini di lantai 25 ini dan saat ini Jesika sedang meminta receptionis di lantai ini untuk menyambungkannya pada Chanyoel. Dia kesal karena beberapa hari sejak dia melarang Jesika pergi ke Busan nomornya susah dihubungi bahkan sampai detik tadi.

“ Maaf noona, tuan Park sedang tidak ingin diganggu.” Jawab perempuan di depan Jesika tersebut setelah menutup sambungan telefonnya.

“ Bilang aku yang mencarinya, Jesika Jung.” Jesika masih berusaha. Tanpa harus menjelaskan bahwa dia kekasih bos nya, perempuan yang kini telah sibuk kembali berusaha menyambungkan saluran telfon itu sudah tau siapa Jesika Jung. Sebagian besar karyawan disini sudah mengetahui hubungan Jesika dengan Chanyoel, itu kenapa karyawan disini begitu menghormati perempuan sederhana yang selalu nampak cantik alami itu. Tidak sabar, Jesika secara mengejutkan merampas gangang telfon yang dibawa oleh receptionis manis didepannya itu.

“ Biarkan aku menemui mu atau sama sekali kita tidak akan bertemu lagi.” Ucap Jesika penuh penekanan pada seseorang disebrang telfon sana. Dia tau bukan sekertarisnya yang mengangkat telfon melainkan Chanyoel sendiri.

“ Baiklah kalo kamu memaksa, aku diruangan ku.”

Klek, sambungan terputus. Jesika sempat mengumpat dalam hati, kenapa nada bicaranya masih sedingin itu. Dia tidak tau perjuangan ku untuk bisa sampai sini hanya untuk menjelaskan masalahnya yang baginya konyol ini. Dasar kekanankan, sudah 7 tahun pacaran masih belum berubah juga. Dia memberikan kembali ganggang telefon itu pada pemiliknya dan tersenyum manis.

“ Maaf kan aku kalau lancang merebut telfonnya.” Ucapnya nya menyesal.

“ Ne, aku mengerti. Mari saya antar ke ruangan tuan Park.” Balas perempuan yang mungkin seumuran dengganya itu lembut sekali. Namanya Luna, dia bekerja disini kira-kira sejak satu tahun yang lalu setelah Kimmi diagkat menjadi sekertaris pribadi Chanyoel. Jesika memang tidak pernah berkenalan secara langsung dengan karyawan-karyawan yang ada di kantor ini, dia hanya mengetahui nama mereka dari nametag yang dipakai di seragam mereka dan Jesika selalu dengan ramah menyapa mereka jika dia ada disini.

“ Andwe, aku bisa sendiri. Terimakasih, “ balas Jesika disertai senyuman manisnya kemudian berjalan meninggalkan gadis itu dan segera menuju ruangan kekasih nya. Beberapa karyawan menunduk tersenyum ramah ketika berpapasan denganya dilorong menuju ruang direktur. Sebelum sampai di ruang direktur, Jesika harus melalui meja Kimmi terlebih dahulu untuk memastikan apakah bos nya mau menerima tamu atau tidak sekalipun itu kekasihnya.

“ Selamat sore noona Jesika, ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan cantik nan anggun dan selalu tersenyum ramah kepada siapapun itu sambil berdiri membungkuk menghormati tamu yang ada di hadapannya.

“ Asshh, sudahlah Kimmi kamu tidak perlu sesungkan itu kepada ku. Aku mencari Oppa Chan, apa dia ada diruanganya?” balas Jesika santai. Dia sudah terlalu dekat dengan karyawan Chanyoel yang satu ini. Kimmi bekerja di rumah sakit ini sejak tahun pertama dia kuliah sambil bekerja dan saat ini dia hampir menyelesaikan kuliahnya. Namun baru satu tahun terakhir ini perusahaan mengangkatnya menjadi sekertaris pribadi setelahh Chanyoel resmi menjadi direktur utama rumah sakit ini menggantikan ayahnya.

“ Ada noona, tapi nampaknya tuan muda sedang sibuk. Seharian ini banyak menerima tamu dan terakhir tadi..” sebelum Kimmi menyelesaikan kalimatnya Jesika sudah pergi meninggalkan gadis itu dan dengan lancang membuka pintu ruangan direktur rumah sakit ini.

“ Noona maaf anda tidak bisa masuk tanpa ijin tuan muda.” Kimmi berusaha mengejar Jesika namun telat, gadis itu sudah ada didalam ruangan kekasihnya.

“ Maaf kan saya tuan Park saya sudah memberitahu..”

“ Sudah Kimi, biarkan dia disini. Tolong tinggalkan kami berdua. Kamu pulanglah karena sudah lewat jam kerja.” Perintah Chanyoel pada sekertarisnya yang nampak sedang ketakutan karena ulah Jesika.

“ Ne, permisi.” Balas Kimmi menunduk kemudian keluar dari ruangan itu dan menutp kembali pintunya.

“ Ada apa? Aku sedang sibuk.” Tanya Chan pada gadisnya tanpa menoleh kearah gadis itu berada. Pandanganya fokus pada beberapa lembar ketas dihadapannya dan layar laptop secara bergangtian.

“ Aku akan menunggu kamu selesai dengan kesibukan mu.” Balas Jesika. Dia menarik kursi yang berada tepat didepan meja Chanyoel dan mendudukinya. Dia melektakan kedua telapak tangannya ke muka kemudian bergatian menggunakan punggung tangan dan menyapu nyapukannya dari rahang sampai pipi berusaha menghangatkan mukannya yang berasa membeku. Dia menggerakan mulutnya kekiri dan ke kanan bahkan tidak ragu memanyukannya untuk membuat mulutnya hangat kembali, mulutnya sudah hampir beku sejak tadi di luar dan semakin berasa ketika dia ada di dalam ruangan ini. Dia juga beberapa kali menyemburkan nafas ke tangan untuk menghangatkan tangannya kemudian memasukan tangan itu kedalam saku mantel tebalnya. Matanya terus memandang laki-laki dihadapannya yang sama sekali tidak bergeming dengan kehadirannya disini, tapi dia akan sabar menunggu sampai laki-laki itu menyelesaikan pekerjaanya. Sebagai direktur baru, Jesika berusaha mengerti kesibukan Chanyoel yang belakangan sangat menyita waktunya. Laki-laki berusia dua tahun lebih tua darinya yang memiliki senyum khas dengan lesung pipi yang sangat dia rindukan. Sudah tiga hari ini mereka sama sekali tidak berkomunikasi karena Chanyoel marah Jesika pergi ke Busan, beberapa hari sebelumya mereka juga tidak bertemu karena Chanyoel selalu pulang larut malam dan tidak memiliki banyak waktu untuk menemui Jesika. Hanya dengan memandang wajahnya saja Jesika sudah merasakan keteduhan, rasa rindunya beberapa hari ini tiba-tiba sirna. Ah, laki-laki itu memang selalu berhasil membuat Jesika jatuh cinta setiap menatapnya. Itu kenapa hubungan mereka bisa sepanjang ini. Jesika mengubah posisi duduknya karena bosan terlalu lama duduk mematung dan kaku, dia menjatuhkan kepalanya pada meja didepannya dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal untuk menaruh kepala. Rasa capeknya mulai berasa setelah berjalan cukup jauh dari halte sampai rumah sakit ini, terlebih selama di Busan dia banyak sekali aktifitas yang dikerjakannya. Ah, rasanya rindu juga dengan tempat tidur dikamarnya. Beberapa kali dia mulai menguap. Sudah berlalu tiga jam sejak Jesika memutuskan masuk secara paksa ke ruangan ini. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Hampir jam 9 malam, hoaaaamm. Dia menguap lagi.

“ Apa kamu akan terus menyelesaikan pekerjaan itu sampai pagi? Kalo iya aku tidak sanggup, aku akan pergi.” Tanya Jesika setelah kesal masih terus diacuhkan.

“ Sebentar lagi selesai.” Balas Chanyoel. Nada suaranya sudah tidak sedingin tadi. Jesika tersenyum dalam hati, ‘sebentar lagi selesai’ itu berarti dia masih menginginkan nya tetap disini dan menunggu sampai dia selesai. Sekali lagi dia tersenyum dalam hati ketika pandangan matanya bertemu dengan mata Chanyoel kemudian dengan canggung laki-laki itu mengalihkan pandangannya. Ah, meskipun marah toh dia masih saja mencuri-curi pandang kearah ku pikir Jesika. Hoaam, dia menguap lagi dan menutup mulunya sambil memejamkan mata. Sungguh, dia capek dan ingin segera istirahat. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit akhirnya mata indah itu tidak kuat lagi menahan kantuknya.

Pukul 21.30 KST ketika Chanyoel barusaja menyelesaikan dokumen-dokumen kerja yang disiapkan untuk meeting besok pagi-pagi sekali bersama para dewan direksi rumah sakit ini. Dia berusaha merenggangkan beberapa otot tangan dan lehernya dengan menggerakan ke kanan dan kiri beberapa kali. Setelah merasa sedikit lebih santai ototnya, dia berjalan mendekati gadisnya yang sejak beberapa jam tadi diacuhkan. Dia hanya menahan tawa dalam hati melihat kelakuan pacarnya selama menunggu dia selesai bekerja. Rasanya nyaman sekali kerja ditunggui oleh orang yang dicintai, meskipun saat ini mereka dalam kondisi marahan. Ah tidak, aku yang marah. Terlalu egois melarang dia pergi untuk misi kemanusian bersama rombongan kampusnya hanya karena cemburu dengan ketua rombongan mereka yang sejak awal kuliah Chanyoel tau menyukai pacarnya itu. Iya, Chanyoel dan Jesika kuliah di universitas yang sama di Konkuk University, hanya beda fakultas. Chanyoel di fakultas ekonomi dan Jesika di fakultas kedokteran. Jesika Jung adalah seorang calon dokter yang sedang menjalankan koas di rumah sakit yang dipimpim pacarnya. Mereka menjalin kasih sejak keduanya masih duduk di bangku SMA, saat itu Chanyoel senior Jesika 2 tingkat diatasnya. Setelah Jesika kelas 2 dan Chanyoel lulus kemudian melanjutkan kuliahnya mereka baru menjadikan kedekatan mereka sebagai sepasang kekasih sampai hari ini. Chanyoel jatuh cinta setengah mati dengan perempuan dihadapanya kini karena kecerdasan dan ketulusannya. Ah entahlah mungkinn terlalu general jika alasan itu hanya karna cerdas dan tulus, jauh dibalik itu Chanyoel mencintai perempuan itu dengan segala apapun yang dimilki. Chanyoel tersenyum sambil membelai lembut kepala gadisnya. Dia sudah tertidur dan tidurnya damai sekali, dia tidak akan tega membangunkannya. Chanyoel duduk di kursi sebelah Jesika dan mengikuti gaya Jesika tidur dengan menjadikan kedua tangan sebagai bantal diatas meja kerjanya. Dia menyesal telah mengacuhkan perempuan ini selama beberapa hari karna keegoisanya.

“ Aku merindukan mu sayang.” Ucap Chanyoel lirih sambil mencium kening Jesika.

“ Enggghhh..” jesika terbangun dan membuka matanya. “ Kamu sudah selesai?” tanyanya dengan suara lirih. Dia mengangkat kembali kepalanya dan duduk tegak dikursi.

“ Ne.” Jawab Chanyoel. Dia berdiri dan beralih duduk di meja berhadapan dengan Jesika.

“ Maafkan aku Oppa, aku tidak bermaksut melawan mu. Tapi aku juga tidak mungkin menolak ajakan teman-teman untuk melakukan misi kemanusiaan itu. Aku calon dokter, membantu menyembuhkan sakit orang itu wajib …….”

“ Stttttt, iya aku mengerti. Aku yang minta maaf karena aku terlalu egois.” Chanyoel memutus kalimat Jesika yang berusaha menjelaskan alasan kenapa dia begitu ngotot ingin pergi ke Busan. Senyum mengambang di wajah Jesika mendengar kalimat itu dari Chanyoel. Dia tau bahwa Chanyoel tidak akan pernah bisa benar-benar marah dengannya.

“ Coba kamu bilang kayak tadi sejak kemaren, aku tidak akan repot-repot datang kesini jalan kaki di musim dingin diluar hujan salju. Terus disini masih kamu cuekin dan harus nunggu kamu berjam-jam lamanya menyelesaikan pekerjaan mu. Begitu aku sudah menyiapkan kata-kata untuk merayu, kamu mengacaukannya dan hanya membalas itu. Kenapa selalu se egois itu?” jesika kesal. Harusnya dia sudah bisa sampai di apartemen dan segera istirahat, badannya lelah sekali.

“ Maafkan aku sayang, beberapa hari lalu aku memang sibuk sekali, bukan bermaksut mengabaikan setiap telfon dan pesan mu hanya saja ketika aku sudah selesai dengan pekerjaan ku sudah terlalu malam dan kuputuskan untuk menundanya besok pagi. Tapi ya pagi tetap saja aku sudah banyak jadwal ini itu nggak sempat lagi.” Sekarang berbalik Chanyeol yang justru menjelaskan.

“ Apa? Sekarang Kamu bahkan mulai tidak memiliki waktu hanya untuk menyempatkan membalas pesan ku? “ jesika marah mendengar pengakuan Chanyoel.

“ Mianhe, biarkan aku seperti ini sampai nanti kondisi ini akan sedikit berangsur membaik. Setelah program baru yang aku terapkan di rumah sakit ini berhsil, mungkin kesibukan ku akan sedikit berkurang. Mengertilah..”

Jesika hanya tersenyum mendengarnya, bagaimana dia bisa menolak laki-laki ini setelah membuatnya tidak bisa bergerak bebas melirik laki-laki lain selama tujuh tahun ini.

“ Baiklah, aku akan selalu mengerti. Aku mencintai mu”

“ Aku lebih mencitai mu sayang,” balas Chanhyoel mendekatkan wajahnya ke wajah Jesika. Terlalu dekat sampai hembusan nafasnya berasa hangat menyapu wajah Jesika.

“ Aku merindukan mu oppa.” Jesika berbisik dan bisikan Jesika di jawab dengan kecupan lembut dari bibir Chanyoel. Awalnya hanya ciuman biasa, tapi naluri mereka yang saling merindu satu sama lain membuat ciuman itu menjadi terasa memanas. Jesika bahkan mulai bangkit dari tempat duduknya dan memilih berdiri agar bisa dengan nyaman mengimbangi ciuman ganas Chanyoel.
“ Oppa..” panggil Jesika disela-sela desahannya sambil menahan rasa nikmat yang dibuat oleh laki-laki itu.

“ iya sayang.”

“ Oppa sss..sudah.” jesika mendorong pelan dada Chanyoel berusaha melepaskan diri dari serangan itu.

“ Sudah tidak tahan? Bersabarlah, aku ingin bermain-main disini dulu.” Balas Chanyoel santai sambil terus memainkan lidahnya. Jesika yang mendengarnya sedikit terkekekh,

“ Bukan itu. Jangan lakukan disini oppa.”

“ Whe? Semua karyawan sudah pulang jam segini, hanya perawat-perawat yang jaga malam itu pun mereka tidak akan berani sampai masuk kesini.” Chanyoel masih bersikeras. Ciumannya kembali naik ke atas dan membungkam mulut Jesika. Sedikit menolak, jesika mendorong dada Chanyoel pelan dan tidak membalas ciumannya.

“ Apa yang salah lagi?” protes Chanyoel kesal.

“ Aku tidak mau melakukannya disini.”

“ Kenapa? Sudah ku bilang kantor sudah sepi sayang.”

“ tapi ruangan kamu dilengkapi CCTV yang dijaga security.”

Seketika chanyoel menelan ludahnya susah payah karena kaget.

“ Iya kau benar. “ dia berhenti mencumbu dan kembali mengancingkan kemeja Jesika yang tadi sudah dubukanya lebar-lebar. Jesika terkekeh kembali melihat betapa panik muka laki-laki didepannya kini.

“ Kamu ingin kita makan dulu atau mengantarkan mu pulang?” Chanyoel melonggarkan dasi di kemejanya yang dari tadi membuatnya sedikit sesak bernafas.

“ Aku ingin segera pulang, lelah sekali. Tapi sepertinya kamu lapar. “ balas Jesika sambil merapikan baju dan mantel yang sudah diacak-acak pacarnya barusan.

“ Iya aku lapar sekali, jadi bisakah kita makan dulu sebelum aku mengantar kan mu pulang?”

Itu tawaran atau ajakan sih sebenarnya, jesika menggerutu dalam hati.

“ Baiklah, aku juga belum makan sejak tiba di Seoul tadi.” Balas perempuan berhidung mancung itu sambil menggenggam tangan kekasihnya untuk mengajaknya segera meninggalkan tempat ini.

“ Aku rapikan barang-barang ku dulu.” Chanyoel melepas tangan jesika dan beranjak ke kursi nya kemudian merapikan beberapa kertas-kertas kerjanya yang langsung dibantu Jesika. Beberapa menit setelahnya mereka berdua sudah pergi meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke basement gedung ini untuk mengambil mobil dan segera mencari makan diluar. Pilihan mereka selalu jatuh di lestoran makanan khas Korea dekat apartemen jesika yang menjadi langganan Jesika sejak memutuskan pindah tempat tinggal di apartemen mewah yang kini ditempati dengan Omma dan adik kecilnya, asshh adik kecil? Sudahlah, jangan membahas adik kecil jesika dulu karena akan membuatnya selalu merasa sedih dan bersalah. Pesanan makanan mereka pun selalu sama, kimbab untuk Jesika dan bulgogi untuk Chanyoel. Setelah selesai makan yang disertai obrolan-obrolan kecil tentang kegiatan mereka selama tidak bertemu akhirnya Chanyoel mengantarkan Jesika pulanng. Sebenarnya mereka masih ingin terus bersama setelah lama tidak seperti ini, tapi udara diluar dingin sekali membuat mereka malas untuk melanjutkan kebersaama itu. Lagipula masih ada hari besok kan.

“ Aku tidak ingin mengganggu tidur ammonin, ini sudah terlalu larut malam.” Kata Chanyoel begitu sampai di depan pintu apartemennya.

“ Baiklah, segera pulang dan istirahat. Jangan lupa mengabari ku begitu sampai rumah.” Balas Jesika.

“ Pasti sayang.” Balas Chanyoel lagi disertai kecupan lembut di bibir Jesika kemudian laki-laki itu mulai berjalan meninggalkan kekasihnya yang masih menatap kepergiannya dari balik punggung. Setelah Chanyoel hilang di tikungan menuju lift Jesika mulai membuka pintu apartemen dan masuk. Sepi, karena dia yakin Omma dan Ara pasti sudah tidur. Meskipun begitu dia tidak akan pernah tenang jika tidak bener memeriksa sediri kondisinya. Setelah selesai meletakan sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah dia langsung menuju kamar diaman Ara biasanya tidur bersama omma. Pintunya tidak di kunci dan dibiarkan terbuka.

“ Jesika, kau sudah pulang?” omma nya terbangun dan kaget mendapati anaknya sudah ada di kamar itu. Dia tahu Jesika ada di Busan beberapa hari ini untuk kegiatan social.

“ Iya omma, aku sudah pulang sejak sore tadi. Aku bertemu dengan opaa Chan dulu dan berjalan-jalan sebentar.” Jelas Jesika sambil duduk di tepian tempat tidur.

Omma nya bangun dari tidurnya dan duduk mendekat kearah jesika.

“ Kau lelah? Apa kau sudah makan?” Tanya wanita paruh baya berdarah asli Indonesia itu. Diusianya yang hampir menginjak pertengan abad perempuan bernama Arumi itu masih sangat cantik. Mukanya sama sekali tidak menunjukan muka orang korea meskipun sudah puluhan tahun tinggal di sana karena dia memang bukan keturunan orang Korea melainkan Jawa. Arumi memang berasal dari Indonesia dan merupakan keturunan dari keluarga keraton Surakarta. Perkenalannya dengan Shin ayah Jesika diawali oleh sahabat dekatnay yang bekerja di perusahaan milik orang korea yang dipimpin oleh Shin. Singkat cerita mereka menjalin kasih dan hadirlah Jesika sebelum mereka mengikat kasih mereka dalam tali pernikahan. Karena kehadiran Jesika diluar nikah itu yang membuat Arumi terbuang dari keluarga besarnya di Jawa dan memutuskan pergi ke Korea bersama Shin sampai detik ini. Sekalipun Shin sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu ketika Jesika masih remaja.

“ Sudah omma, bersama oppa Chan. Apa Ara baik-baik saja selama aku tinggal?” kepalanya mendongak melihat sosok anak laki-laki berusia 5 tahun disamping omma nya.

“ Iya dia baik-baik saja. Appa nya selalu kesini setiap pulang kerja selama kau tidak di sini. Dua hari yang lalu bahkan dia tidur disini bersama Ara.” Balas Omma nya sambil membelai lembut rambut cucunya. Ya, cucu nya bukan anaknya jika hanya berdua dengan Jesika. Namun jika ada Chanyoel dan orang asing lainnya Ara akan menjadi anaknya. Karena sesungguhnya Arumi hanya meiliki anak tunggal yakni Jesika, Ara bukanlah anak yang keluar dari rahimnya melainkan dari rahim Jesika. Untuk menutupi kesalahan putri tunggal kesayangannya itu dia rela mengakui Ara sebagai anak dari hasil hubungan gelapnya dengan laki-laki lain. Meskipun demikian Arumi sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal tersebut, dia tidak akan peduli dengan pendapat orang tentangnya karena yang terpenting adalah kebahagian Jesika. Toh dia tinggal di apartemen mewah yang kehidupan orang-orang yang tinggal disini tidak bisa dengan mudah diketahui satu sama lain karena ya kita tahu kehidupan penghuni apartemen mewah yang saling acuh dan menutup diri. Jadi Arumi tidak akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan siapa Ara kepada orang atau keluarganya karena ya dia pun sudah tidak memiliki keluarga. Arumi pun sudah mengubur jauh-jauh kenangan tentang bagaiaman Ara bisa ada. Hanya yang selalu dipikirkannya bagaimana jika suatu saat Chanyoel tau siapa Ara sebenarnya, apakah dia akan meninggalkan Jesika atau bagaimana. Itulah ketakutan terbesar bagi Arumi selama lima tahun terakhir ini. Chanyoel hanya mengenal dan mengetahui Ara sebagai adik Jesika bukan anak Jesika.

“ Besok hari sabtu, apakah kamu juga libur? Kalau iya luangkan lah sedikit waktumu untuk Ara, dari kemaren dia menanyakan kamu terus.” Ucapan Arumi memecah keheningan antara ibu dan anak tersebut ketika mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.

“ Ani omma, besok aku harus ke rumah sakit. Aku sudah lama meninggalkan tanggung jawab ku. Mungkin setelah selesai dari rumah sakit aku akan mengajak Ara keluar.”

“ Baik lah, biarkan besok pagi Ara ditemani appa nya.”

Jesika mengernyitkan dahinya mendengar kata omma nya. “ Kenapa bukan omma saja yang menemani Ara seperti biasa. Bukannya beberapa hari kemaren dia sudah bersama appa nya.” Jesika protes. Masih tidak suka jika Ara terlalu dekat dengan ayah kandungnya meskipun sudah bertahun tahun lamanya peristiwa itu berlalu.

“ Ara sendiri yang meminta untuk ditemani appa sama omma nya. Ara sudah besar untuk mengetahui bahwa teman-teman nya di play grub selalu diantar oleh appa nya ketika berangkat sekolah. Dan ketika weekend mereka akan menghabiskan waktu bersama appa serta omma nya. Kamu tau seberapa susahnya tuan Cho dan aku menjelaskan kepada Ara bahwa appa nya tidak bisa mengantarkannya ke sekolah seperti yang dia mau?” penjelasan Arumi seketika membuat Jesika diam. Dalam diamnya dia merasakan sakit yang teramat. Ini yang juga selalu ditakutkan Jesika selama ini. Bahwa anak itu akan tumbuh dan mulai memiliki lingkungan baru selain lingkungan keluarga kecil ini. Lingkungan baru itulah yang nantinya akan membuat dia tau sebenarnya siapa dia cepat atau lambat dan kondisi ini tidak bisa Jesika hindari. Bertahun-tahun dia menyembunyikan Ara dari siapapun termasuk Chanyoel yang hanya mengetahui Ara sebagai adik bukan anaknya.

“ Satu tahun terakhir kamu begitu sibuk, omma paham dengan kegiatan kamu saat ini tapi omma mohon jangan membuat Ara merasa terabaikan. Dia mungkin tidak paham kalau kamu lah omma nya, tapi ikatan batin kalian tidak bisa dibohongi.”

Kalimat Arumi sekali lagi membuat Jesika merasa sakit. Sakit menyadari kenyataan ini, selalu seperti ini. Hati dan pikirannya lelah terus berputar dengan masalah ini. Matanya seolah lelah terus mengeluarkan air mata memikirkan hal ini, hati nya pun lelah terus merutuki diri.

“ maafkan omma sayang, bukan bermaksut apa-apa tapi ini memang harus segera kalian fikirkan. Kasihan Ara..” ucap Arumi mengusap halus pundak putri kesayanganya. Kemudian bangkit dan meninggalkan jesika sendiri dalam diam. Setelah omma nya keluar dari kamar itu, Jesika langsung memeluk tubuh kecil Ara yang dengan tenang tidur tanpa beban. Dia menangisi putra nya yang bahkan tidak mengenalinya sebagai ibu tapi kakak karena keegoisannya. Jesika paham betul yang dimaksut ‘kalian’ oleh omma nya tadi. Apakah iya aku harus melanjutkan ini dengan laki-laki yang menjadi ayah anak ku meskipun aku tidak mencintainya sama sekali dengan resiko aku akan kehilangan Chanyoel laki-laki yang sangat aku cintai selama ini. Atau aku harus tetap mempertahankan keegoisan ku untuk tetap bersama Chanyoel dengan resiko Ara yang akan kehilangan appa nya. Ottokee, bunuh saja aku.

bersambung di chanpter 2, tinggalkan komentar kalian..

terimakasih sudah membaca..

cereal volume9_07

Advertisements

A CHILD ( chapter 1 )

Angin kencang menyapu jalanan yang sudah tertutup tebal salju musim dingin tahun ini yang seharusnya sudah berganti musim sejak satu bulan yang lalu. Entahlah, bebebrapa tahun terakhir cuaca di beberapa Negara di belahan dunia ini sulit di predksi, mungkin bumi sudah terlalu tua dan kita lalai menjaganya. Sejak tadi pagi salju terus turun menutupi pohon dan gedung-gedung yang menjulang tinggi di kota Seoul, meskipun begitu tidak lantas membuat aktifitas masyarakat kota tersbut menjadi terhenti. Seoul merupakan salah satu kota tersibuk di dunia, setiap hari dan setiap waktu kota itu tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan ataupun orang yang berjalan entah itu penduduk local ataupun wisatawan. Mungkin di jam-jam tertentu saja keramaian orang mulai berkurang dibanding dengan kendaraan, biasanya setelah jam 01.00 KST namun toh tetap saja masih ada segelincir muda-mudi yang nongkrong di kedai-kedai kopi pinggiran jalan. Terlebih jam-jam sibuk seperti sekarang saatnya jam pulang kantor, volume kendaraan meningkat dan trotoar jalan penuh dengan lalu lalang orang berjalan. Meskipun begitu, kota itu selalu lolos dari kata macet yang biasanya menjadi masalah utama kota besar dengan aktifitas masyarakatnya yang sibuk. Selain memang pemerintah nya yang pandai mengatur struktur jalan dan kebijakan-kebijakan lainnya mengenai penggunaaan jalan, kendaraan pribadi dan kendaraan umum masyarakat sana juga memiliki kesadaran cukup tinggi untuk tidak secara egois menggunkaan kendaran pribadi yang memenuhi jalanan kota. Mereka lebih menyukai jalan kaki jika jarak yang mereka tempuh tidak terlalu jauh. Jika mengharuskan menggunakan kendraan umum pun mereka dengan senang hati karena keamanan, kenyamanan dan keselamatan serta fasilitas penumpang di kota itu sangat terjamin.

Butiran salju kembali turun dengan volume yang lebih banyak membuat masyarakat kota yang tadinya santai berjalan jadi sedikit mempercepat laju jalannya, sebagian ada yang setengah berlali. Angin pun semakin kencang membuat udara kota tersebut semakin dingin. Diantara orang yang berlarian menyelamatkan diri dari hembusan angin kencang dan salju tersebut nampak seorang perempuan berparas cantik dengan bentuk badan yang menjulang tinggi bak model menggunakan mantel tebal dan shall untuk membalut tubuhnya yang berasa membeku jika dia terus ada di jalanan ini. Perempuan itu bernama Jesika jung, perempuan cantik berdarah Indonesia Korea nampak mempercepat jalannya bahkan sedikit berlari untuk menghindari salju yang semakin deras berjatuhan. Tangannya merapatkan mantel dan shall untuk sedikt menghangatkan badan kemudian memasukan kedua tanggannya di saku mantel kiri dan kanan. Sebentar lagi sampai ke tempat yang dituju sejak tadi keluar dari kampus. Langkahnya terhenti di sebuah rumah sakit terbesar di kota ini, sedikit ragu untuk melangkahkan kembali kakinya memasuki bangunan super mewah itu yang justru lebih tepat di bilang mall dari pada rumah sakit. Tapi dia harus masuk dan menemui pemilik gedung, ya pemilik gedung atau lebih tepatnya anak pemilik rumah sakit ini. Asshh entahlah siapapun itu, yang pasti dia ingin menemui kekasihnya, Park Chanyoel. Dia harus menemui laki-laki yang sudah hampir 7 tahun ini memacarinya untuk menjelaskan sesuatu. Laki-laki itu marah kepadanya karena tidak mengijinkan Jesika untuk pergi ke Busan selama 3 hari untuk kegiatan amal di kampusnya. Udara yang semakin dingin dan salju yang semakin banyak berjatuhan mendesak dia untuk segera mengambil keputusan masuk atau tidak. Jika tidak maka pertengkaran mereka tidak akan selesai dan Chanyoel akan terus mengacuhkannya, jika dia masuk dan menjelaskan sekarang dia takut mengganggu kesibukannya dan akan tetap acuh dengan penjelasaanya maka akan sia-sia. Sebelum Jesika memutuskan untuk berjalan dari kampus ke sini dia sempat menelfon sekertaris Chanyoel dan menanyakan keberadaan laki-laki itu serta jadwalnya hari ini. Dari sekertaris itu Jesika tau bahwa saat ini Chanyoel sedang sibuk dengan beberapa petemuan dari beberapa rekan bisnisnya. Asshh apapun tanggapan dia, aku harus menjelaskannya. Putus gadis itu kemudian dengan mantap melangkahkan kakinya memasuki gedung yang dari tadi ditatapnya kemudian dengan cepat mencari lift yang akan membawanya ke lantai 25 diaman Chanyoel ada di sana. 7 menit berikutnya dia sudah ada di lantai 25 dan dengan tergesa-gesa menuju meja receptionis. Ya rumah sakit ini memiliki 2 loby receptionis, satu untuk pelayanan rumah sakit di lantai dasar dan satunya lagi khusus untuk managemen rumah sakit ini di lantai 25 ini dan saat ini Jesika sedang meminta receptionis di lantai ini untuk menyambungkannya pada Chanyoel. Dia kesal karena beberapa hari sejak dia melarang Jesika pergi ke Busan nomornya susah dihubungi bahkan sampai detik tadi.

“ Maaf noona, tuan Park sedang tidak ingin diganggu.” Jawab perempuan di depan Jesika tersebut setelah menutup sambungan telefonnya.

“ Bilang aku yang mencarinya, Jesika Jung.” Jesika masih berusaha. Tanpa harus menjelaskan bahwa dia kekasih bos nya, perempuan yang kini telah sibuk kembali berusaha menyambungkan saluran telfon itu sudah tau siapa Jesika Jung. Sebagian besar karyawan disini sudah mengetahui hubungan Jesika dengan Chanyoel, itu kenapa karyawan disini begitu menghormati perempuan sederhana yang selalu nampak cantik alami itu. Tidak sabar, Jesika secara mengejutkan merampas ganggang telfon yang dibawa oleh receptionis manis didepannya itu.

“ Biarkan aku menemui mu atau sama sekali kita tidak akan bertemu lagi.” Ucap Jesika penuh penekanan pada seseorang disebrang telfon sana. Dia tau bukan sekertarisnya yang mengangkat telfon melainkan Chanyoel sendiri.

“ Baiklah kalo kamu memaksa, aku diruangan ku.”

Klek, sambungan terputus. Jesika sempat mengumpat dalam hati, kenapa nada bicaranya masih sedingin itu. Dia tidak tau perjuangan ku untuk bisa sampai sini hanya untuk menjelaskan masalahnya yang baginya konyol ini. Dasar kekanankan, sudah 7 tahun pacaran masih belum berubah juga. Dia memberikan kembali ganggang telefon itu pada pemiliknya dan tersenyum manis.

“ Maaf kan aku kalau lancang merebut telfonnya.” Ucapnya nya menyesal.

“ Ne, aku mengerti. Mari saya antar ke ruangan tuan Park.” Balas perempuan yang mungkin seumuran dengganya itu lembut sekali. Namanya Luna, dia bekerja disini kira-kira sejak satu tahun yang lalu setelah Kimmi diagkat menjadi sekertaris pribadi Chanyoel. Jesika memang tidak pernah berkenalan secara langsung dengan karyawan-karyawan yang ada di kantor ini, dia hanya mengetahui nama mereka dari nametag yang dipakai di seragam mereka dan Jesika selalu dengan ramah menyapa mereka jika dia ada disini.

“ Andwe, aku bisa sendiri. Terimakasih, “ balas Jesika disertai senyuman manisnya kemudian berjalan meninggalkan gadis itu dan segera menuju ruangan kekasih nya. Beberapa karyawan menunduk tersenyum ramah ketika berpapasan denganya dilorong menuju ruang direktur tujuannya. Sebelum sampai di ruang direktur, Jesika harus melalui meja Kimmi terlebih dahulu untuk memastikan apakah bos nya mau menerima tamu atau tidak sekalipun itu kekasihnya.

“ Selamat sore noona Jesika, ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan cantik nan anggun dan selalu tersenyum ramah kepada siapapun itu sambil berdiri membungkuk menghormati tamu yang ada di hadapannya.

“ Asshh, sudahlah Kimmi kamu tidak perlu sesungkan itu kepada ku. Aku mencari Oppa Chan, apa dia ada diruanganya?” balas Jesika santai. Dia sudah terlalu dekat dengan karyawan Chanyoel yang satu ini. Kimmi bekerja di rumah sakit ini sejak tahun pertama dia kuliah sambil bekerja dan saat ini dia hampir menyelesaikan kuliahnya. Namun baru satu tahun terakhir ini perusahaan mengangkatnya menjadi sekertaris pribadi setelahh Chanyoel resmi menjadi direktur utama rumah sakit ini setelah ayahnya meninggal.

“ Ada noona, tapi nampaknya tuan muda sedang sibuk. Seharian ini banyak menerima tamu dan terakhir tadi..” sebelum Kimmi menyelesaikan kalimatnya Jesika sudah pergi meninggalkan gadis itu dan dengan lancang membuka pintu ruangan direktur rumah sakit ini.

“ Noona maaf anda tidak bisa masuk tanpa ijin tuan muda.” Kimmi berusaha mengejar Jesika namun telat, gadis itu sudah ada didalam ruangan kekasihnya.

“ Maaf kan saya tuan Park saya sudah memberitahu..”

“ Sudah Kimi, biarkan dia disini. Tolong tinggalkan kami berdua. Kamu pulanglah karena sudah lewat jam kerja.” Perintah Chanyoel pada sekertarisnya yang nampak sedang ketakutan karena ulah Jesika.

“ Ne, permisi.” Balas Kimmi menunduk kemudian keluar dari ruangan itu dan menutp kembali pintunya.

“ Ada apa? Aku sedang sibuk.” Tanya Chan pada gadisnya tanpa menoleh kearah gadis itu berada. Pandanganya fokus pada beberapa lembar ketas dihadapannya dan layar laptop secara bergangtian.

“ Aku akan menunggu kamu selesai dengan kesibukan mu.” Balas Jesika. Dia menarik kursi yang berada tepat didepan meja Chanyoel dan mendudukinya. Dia melektakan kedua telapak tangannya ke muka kemudian bergatian menggunakan punggung tangan dan menyapu nyapukannya dari rahang sampai pipi berusaha menghangatkan mukannya yang berasa membeku. Dia menggerakan mulutnya kekiri dan ke kanan bahkan tidak ragu memanyukannya untuk membuat mulutnya hangat kembali, mulutnya sudah hampir beku sejak tadi di luar dan semakin berasa ketika dia ada di dalam ruangan ini. Dia juga beberapa kali menyemburkan nafas ke tangan untuk menghangatkan tangannya kemudian memasukan tangan itu kedalam saku mantel tebalnya. Matanya terus memandang laki-laki dihadapannya yang sama sekali tidak bergeming dengan kehadirannya disini, tapi dia akan sabar menunggu sampai laki-laki itu menyelesaikan pekerjaanya. Sebagai direktur baru, Jesika berusaha mengerti kesibukan Chanyoel yang belakangan sangat menyita waktunya. Laki-laki berwajah tampan dengan senyuman menawan dihadapannya ini yang sangat dia rindukan. Sudah tiga hari ini mereka sama sekali tidak berkomunikasi karena Chanyoel marah Jesika pergi ke Busan, beberapa hari sebelumya mereka juga tidak bertemu karena Chanyoel selalu pulang larut malam dan tidak memiliki banyak waktu untuk menemui Jesika. Hanya dengan memandang wajahnya saja Jesika sudah merasakan keteduhan, rasa rindunya beberapa hari ini tiba-tiba sirna. Ah, laki-laki itu memang selalu berhasil membuat Jesika jatuh cinta setiap menatapnya. Itu kenapa hubungan mereka bisa sepanjang ini. Jesika mengubah posisi duduknya karena bosan terlalu lama duduk mematung dan kaku, dia menjatuhkan kepalanya pada meja didepannya dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal untuk menaruh kepala. Rasa capeknya mulai berasa setelah berjalan cukup jauh dari kampus sampai rumah sakit ini, terlebih selama di Busan dia banyak sekali aktifitas yang dikerjakannya. Ah, rasanya rindu juga dengan tempat tidur dikamarnya. Beberapa kali dia mulai menguap. Sudah berlalu tiga jam sejak Jesika memutuskan masuk secara paksa ke ruangan ini. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Hampir jam 9 malam, hoaaaamm. Dia menguap lagi.

“ Apa kamu akan terus menyelesaikan pekerjaan itu sampai pagi? Kalo iya aku tidak sanggup, aku akan pergi.” Tanya Jesika setelah kesal masih terus diacuhkan.

“ Sebentar lagi selesai.” Balas Chanyoel. Nada suaranya sudah tidak sedingin tadi. Jesika tersenyum dalam hati, ‘sebentar lagi selesai’ itu berarti dia masih menginginkan nya tetap disini dan menunggu sampai dia selesai. Sekali lagi dia tersenyum dalam hati ketika pandangan matanya bertemu dengan mata Chanyoel kemudian dengan canggung laki-laki itu mengalihkan pandangannya. Ah, meskipun marah toh dia masih saja mencuri-curi pandang kearah ku pikir Jesika. Hoaam, dia menguap lagi dan menutup mulunya sambil memejamkan mata. Sungguh, dia capek dan ingin segera istirahat. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit akhirnya mata indah itu tidak kuat lagi menahan kantuknya.

Pukul 21.30 KST ketika Chanyoel barusaja menyelesaikan dokumen-dokumen kerja yang disiapkan untuk meeting besok pagi-pagi sekali bersama para dewan direksi rumah sakit ini. Dia berusaha merenggangkan beberapa otot tangan dan lehernya dengan menggerakan ke kanan dan kiri beberapa kali. Setelah merasa sedikit lebih santai ototnya, dia berjalan mendekati gadisnya yang sejak beberapa jam tadi diacuhkan. Dia hanya menahan tawa dalam hati melihat kelakuan pacarnya selama menunggu dia selesai bekerja. Rasanya nyaman sekali kerja ditunggui oleh orang yang dicintai, meskipun saat ini mereka dalam kondisi marahan. Ah tidak, aku yang marah. Terlalu egois melarang dia pergi untuk misi kemanusian bersama rombongan kampusnya hanya karena cemburu dengan ketua rombongan mereka yang sejak awal kuliah Chanyoel tau menyukai pacarnya itu. Iya, Chanyoel dan Jesika kuliah di universitas yang sama hanya beda fakultas. Chanyoel di fakultas ekonomi dan Jesika di fakultas kedokteran. Jesika Jung adalah seorang calon dokter yang sedang menjalankan koas di rumah sakit yang dipimpim pacarnya. Mereka menjalin kasih sejak keduanya masih duduk di bangku SMA, saat itu Chanyoel senior Jesika 2 tingkat diatasnya. Setelah Jesika kelas 2 dan Chanyoel lulus kemudian melanjutkan kuliahnya mereka baru menjadikan kedekatan mereka sebagai sepasang kekasih sampai hari ini. Chanyoel jatuh cinta setengah mati dengan perempuan dihadapanya kini karena kecerdasan dan ketulusannya. Ah entahlah mungkinn terlalu general jika alasan itu hanya karna cerdas dan tulus, jauh dibalik itu Chanyoel mencintai perempuan itu dengan segala apapun yang dimilki. Chanyoel tersenyum sambil membelai lembut kepala gadisnya. Dia sudah tertidur dan tidurnya damai sekali, dia tidak akan tega membangunkannya. Chanyoel duduk di kursi sebelah Jesika dan mengikuti gaya Jesika tidur dengan menjadikan kedua tangan sebagai bantal diatas meja kerjanya. Dia menyesal telah mengacuhkan perempuan ini selama beberapa hari karna keegoisanya.

“ Aku merindukan mu sayang.” Ucap Chanyoel lirih sambil mencium kening Jesika.

“ Enggghhh..” jesika terbangun dan membuka matanya. “ Kamu sudah selesai?” tanyanya dengan suara lirih. Dia mengangkat kembali kepalanya dan duduk tegak dikursi.

“ Ne.” Jawab Chanyoel. Dia berdiri dan beralih duduk di meja berhadapan dengan Jesika.

“ Maafkan aku Oppa, aku tidak bermaksut melawan mu. Tapi aku juga tidak mungkin menolak ajakan teman-teman untuk melakukan misi kemanusiaan itu. Aku calon dokter, membantu menyembuhkan sakit orang itu wajib …….”

“ Stttttt, iya aku mengerti. Aku yang minta maaf karena aku terlalu egois.” Chanyoel memutus kalimat Jesika yang berusaha menjelaskan alasan kenapa dia begitu ngotot ingin pergi ke Busan. Senyum mengambang di wajah Jesika mendengar kalimat itu dari Chanyoel. Dia tau bahwa Chanyoel tidak akan pernah bisa benar-benar marah dengannya.

“ Coba kamu bilang kayak tadi sejak kemaren, aku tidak akan repot-repot datang kesini jalan kaki di musim dingin udah gitu diluar hujan salju. Terus disini masih kamu cuekin dan harus nunggu kamu berjam-jam lamanya menyelesaikan pekerjaan mu. Begitu aku sudah menyiapkan kata-kata untuk merayu, kamu mengacaukannya dan hanya membalas itu. Kenapa selalu se egois itu?” jesika kesal. Harusnya dia sudah bisa sampai di apartemen dan segera istirahat, badannya lelah sekali.

“ Maafkan aku sayang, beberapa hari lalu aku memang sibuk sekali, bukan bermaksut mengabaikan setiap telfon dan pesan mu hanya saja ketika aku sudah selesai dengan pekerjaan ku sudah terlalu malam dan kuputuskan untuk menundanya besok pagi. Tapi ya pagi tetap saja aku sudah banyak jadwal ini itu nggak sempat lagi.” Sekarang berbalik Chanyeol yang justru menjelaskan.

“ Apa? Sekarang Kamu bahkan mulai tidak memiliki waktu hanya untuk menyempatkan membalas pesan ku? “ jesika marah mendengar pengakuan Chanyoel.

“ Mianhe, biarkan aku seperti ini sampai nanti kondisi ini akan sedikit berangsur membaik. Setelah program baru yang aku terapkan di rumah sakit ini berhsil, mungkin kesibukan ku akan sedikit berkurang. Mengertilah..”

Jesika hanya tersenyum mendengarnya, bagaimana dia bisa menolak laki-laki ini setelah membuatnya tidak bisa bergerak bebas melirik laki-laki lain selama 7 tahun ini.

“ Baiklah, aku akan selalu mengerti. Aku mencintai mu”

“ Aku lebih mencitai mu sayang,” balas Chanhyoel mendekatkan wajahnya ke wajah Jesika. Terlalu dekat sampai hembusan nafasnya berasa hangat menyapu wajah Jesika.

“ Aku merindukan mu oppa.” Jesika berbisik dan bisikan Jesika di jawab dengan kecupan lembut dari bibir Chanyoel. Awalnya hanya ciuman biasa, tapi naluri mereka yang saling merindu satu sama lain membuat ciuman itu menjadi terasa memanas. Jesika bahkan mulai bangkit dari tempat duduknya dan memilih berdiri agar bisa dengan nyaman mengimbangi ciuman ganas Chanyoel.
“ Oppa..” panggil Jesika disela-sela desahannya sambil menahan rasa nikmat yang dibuat oleh laki-laki itu.

“ iya sayang.”

“ Oppa sss..sudah.” jesika mendorong pelan dada Chanyoel berusaha melepaskan diri dari serangan itu.

“ Sudah tidak tahan? Bersabarlah, aku ingin bermain-main disini dulu.” Balas Chanyoel santai sambil terus memainkan lidahnya. Jesika yang mendengarnya sedikit terkekekh,

“ Bukan itu. Jangan lakukan disini oppa.”

“ Whe? Semua karyawan sudah pulang jam segini, hanya perawat-perawat yang jaga malam itu pun mereka tidak akan berani sampai masuk kesini.” Chanyoel masih bersikeras. Ciumannya kembali naik ke atas dan membungkam mulut Jesika. Sedikit menolak, jesika mendorong dada Chanyoel pelan dan tidak membalas ciumannya.

“ Apa yang salah lagi?” protes Chanyoel kesal.

“ Aku tidak mau melakukannya disini.”

“ Kenapa? Sudah ku bilang kantor sudah sepi sayang.”

“ tapi ruangan kamu dilengkapi CCTV yang dijaga security.”

Seketika chanyoel menelan ludahnya susah payah karena kaget.

“ Iya kau benar. “ dia berhenti mencumbu dan kembali mengancingkan kemeja Jesika yang tadi sudah dubukanya lebar-lebar. Jesika terkekeh kembali melihat betapa panik muka namja didepannya kini.

“ Kamu ingin kita makan dulu atau mengantarkan mu pulang?” Chanyoel melonggarkan dasi di kemejanya yang dari tadi membuatnya sedikit sesak bernafas.

“ Aku ingin segera pulang, lelah sekali. Tapi sepertinya kamu lapar. “ balas Jesika sambil merapikan baju dan mantel yang sudah diacak-acak pacarnya barusan.

“ Iya aku lapar sekali, jadi bisakah kita makan dulu sebelum aku mengantar kan mu pulang?”

Itu tawaran atau ajakan sih sebenarnya, jesika menggerutu dalam hati.

“ Baiklah, aku juga belum makan sejak tiba di Seoul tadi.” Balas perempuan berhidung mancung itu sambil menggenggam tangan kekasihnya untuk mengajaknya segera meninggalkan tempat ini.

“ Aku rapikan barang-barang ku dulu.” Chanyoel melepas tangan jesika dan beranjak ke kursi nya kemudian merapikan beberapa kertas-kertas kerjanya yang langsung dibantu Jesika. Beberapa menit setelahnya mereka berdua sudah pergi meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju lift yang akan membanyaka ke basement gedung ini untuk mengambil mobil dan segera mencari makan diluar. Pilihan mereka selalu jatuh di lestoran makanan khas Korea dekat apartemen jesika yang menjadi langganan Jesika sejak memutuskan pindah tempat tinggal di apartemen mewah yang kini ditempati dengan Omma dan adik kecilnya, asshh adik kecil? Sudahlah, jangan membahas adik kecil jesika dulu karena akan membuatnya selalu merasa sedih dan bersalah. Pesanan makanan mereka pun selalu sama, kimbab untuk Jesika dan bulgogi untuk Chanyoel. Setelah selesai makan yang disertai obrolan-obrolan kecil tentang kegiatan mereka selama tidak bertemu akhirnya Chanyoel mengantarkan Jesika pulanng. Sebenarnya mereka masih ingin terus bersama setelah lama tidak seperti ini, tapi udara diluar dingin sekali membuat mereka malas untuk melanjutkan kebersaama itu. Lagipula masih ada hari besok kan.

“ Aku tidak ingin mengganggu tidur ammonin, ini sudah terlalu larut malam.” Kata Chanyoel begitu sampai di depan pintu apartemennya tanpa masuk seperti biasa.

“ Baiklah, segera pulang dan istirahat. Jangan lupa mengabari ku begitu sampai rumah.” Balas Jesika.

“ Pasti sayang.” Balas Chanyoel lagi disertai kecupan lembut di bibir Jesika kemudian laki-laki itu mulai berjalan meninggalkan kekasihnya yang masih menatap kepergiannya dari balik punggung. Setelah Chanyoel hilang di tikungan menuju lift Jesika mulai membuka pintu apartemen dan masuk. Sepi, karena dia yakin Omma dan Ara pasti sudah tidur. Meskipun begitu dia tidak akan pernah tenang jika tidak bener memeriksa sediri kondisinya. Setelah selesai meletakan sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah dia langsung menuju kamar diaman Ara biasanya tidur bersama omma. Pintunya tidak di kunci dan dibiarkan terbuka.

“ Jesika, kau sudah pulang?” omma nya terbangun dan kaget mendapati anaknya sudah ada di kamar itu. Dia tahu Jesika ada di Busan beberapa hari ini untuk kegiatan social.

“ Iya omma, aku sudah pulang sejak sore tadi. Aku bertemu dengan opaa Chan dulu dan berjalan-jalan sebentar.” Jelas Jesika sambil duduk di tepian tempat tidur.

Omma nya bangun dari tidurnya dan duduk mendekat kearah jesika.

“ Kau lelah? Apa kau sudah makan?” Tanya wanita paruh baya berdarah asli Indonesia itu. Diusianya yang hampir menginjak pertengan abad perempuan bernama Arumi itu masih sangat cantik. Mukanya sama sekali tidak menunjukan muka orang korea meskipun sudah puluhan tahun tinggal di sana karena dia memang bukan keturunan orang Korea melainkan Jawa. Arumi memang berasal dari Indonesia dan merupakan keturunan dari keluarga keraton Surakarta. Perkenalannya dengan Shin ayah Jesika diawali oleh sahabat dekatnay yang bekerja di perusahaan milik orang korea yang dipimpin oleh Shin. Singkat cerita mereka menjalin kasih dan hadirlah Jesika sebelum mereka mengikat kasih mereka dalam tali pernikahan. Karena kehadiran Jesika diluar nikah itu yang membuat Arumi terbuang dari keluarga besarnya di Jawa dan memutuskan pergi ke Korea bersama Shin sampai detik ini. Sekalipun Shin sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu ketika Jesika masih kecil.

“ Sudah omma, bersama oppa Chan. Apa Ara baik-baik saja selama aku tinggal?” kepalanya mendongak melihat sosok anak laki-laki berusia 5 tahun disamping omma nya.

“ Iya dia baik-baik saja. Appa nya selalu kesini setiap pulang kerja selama kau tidak di sini. Dua hari yang lalu bahkan dia tidur disini bersama Ara.” Balas Omma nya sambil membelai lembut rambut cucunya. Ya, cucu nya bukan anaknya jika hanya berdua dengan Jesika. Namun jika ada Chanyoel dan orang asing lainnya Ara akan menjadi anaknya. Karena sesungguhnya Arumi hanya meiliki anak tunggal yakni Jesika, Ara bukanlah anak yang keluar dari rahimnya melainkan dari rahim Jesika. Untuk menutupi kesalahan putri tunggal kesayangannya itu dia rela mengakui Ara sebagai anak dari hasil hubungan gelapnya dengan laki-laki lain. Meskipun demikian Arumi sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal tersebut, dia tidak akan peduli dengan pendapat orang tentangnya karena yang terpenting adalah kebahagian Jesika. Toh dia tinggal di apartemen mewah yang kehidupan orang-orang yang tinggal disini tidak bisa dengan mudah diketahui satu sama lain karena ya kita tahu kehidupan penghuni apartemen mewah yang saling acuh dan menutup diri. Jadi Arumi tidak akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan siapa Ara kepada orang atau keluarganya karena ya dia pun sudah tidak memiliki keluarga. Arumi pun sudah mengubur jauh-jauh kenangan tentang bagaiaman Ara bisa ada. Hanya yang selalu dipikirkannya bagaimana jika suatu saat Chanyoel tau siapa Ara sebenarnya, apakah dia akan meninggalkan Jesika atau bagaimana. Itulah ketakutan terbesar bagi Arumi selama lima tahun terakhir ini. Chanyoel hanya mengenal dan mengetahui Ara sebagai adik Jesika bukan anak Jesika.

“ Besok hari sabtu, apakah kamu juga libur? Kalau iya luangkan lah sedikit waktumu untuk Ara, dari kemaren dia menanyakan kamu terus.” Ucapan Arumi memecah keheningan antara ibu dan anak tersebut ketika mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.

“ Ani omma, besok aku harus ke rumah sakit. Aku sudah lama meninggalkan tanggung jawab ku. Mungkin setelah selesai dari rumah sakit aku akan mengajak Ara keluar.”

“ Baik lah, biarkan besok pagi Ara ditemani appa nya.”

Jesika mengernyitkan dahinya mendengar kata omma nya. “ Kenapa bukan omma saja yang menemani Ara seperti biasa. Bukannya beberapa hari kemaren dia sudah bersama appa nya.” Jesika protes. Masih tidak suka jika Ara terlalu dekat dengan ayah kandungnya meskipun sudah bertahun tahun lamanya peristiwa itu berlalu.

“ Ara sendiri yang meminta untuk ditemani appa sama omma nya. Ara sudah besar untuk mengetahui bahwa teman-teman nya di play grub selalu diantar oleh appa nya ketika berangkat sekolah. Dan ketika weekend mereka akan menghabiskan waktu bersama appa serta omma nya. Kamu tau seberapa susahnya tuan Cho dan aku menjelaskan kepada Ara bahwa appa nya tidak bisa mengantarkannya ke sekolah seperti yang dia mau?” penjelasan Arumi seketika membuat Jesika diam. Dalam diamnya dia merasakan sakit yang teramat. Ini yang juga selalu ditakutkan Jesika selama ini. Bahwa anak itu akan tumbuh dan mulai memiliki lingkungan baru selain lingkungan keluarga kecil ini. Lingkungan baru itulah yang nantinya akan membuat dia tau sebenarnya siapa dia cepat atau lambat dan kondisi ini tidak bisa Jesika hindari. Bertahun-tahun dia menyembunyikan Ara dari siapapun termasuk Chanyoel yang hanya mengetahui Ara sebagai adik bukan anaknya.

“ Satu tahun terakhir kamu begitu sibuk, omma paham dengan kegiatan kamu saat ini tapi omma mohon jangan membuat Ara merasa terabaikan. Dia mungkin tidak paham kalau kamu lah omma nya, tapi ikatan batin kalian tidak bisa dibohongi.”

Kalimat Arumi sekali lagi membuat Jesika merasa sakit. Sakit menyadari kenyataan ini, selalu seperti ini. Hati dan pikirannya lelah terus berputar dengan masalah ini. Matanya seolah lelah terus mengeluarkan air mata memikirkan hal ini, hati nya pun lelah terus merutuki diri.

“ maafkan omma sayang, bukan bermaksut apa-apa tapi ini memang harus segera kalian fikirkan. Kasihan Ara..” ucap Arumi mengusap halus pundak putri kesayanganya. Kemudian bangkit dan meninggalkan jesika sendiri dalam diam. Setelah omma nya keluar dari kamar itu, Jesika langsung memeluk tubuh kecil Ara yang dengan tenang tidur tanpa beban. Dia menangisi putra nya yang bahkan tidak mengenalinya sebagai ibu tapi kakak karena keegoisannya. Jesika paham betul yang dimaksut ‘kalian’ oleh omma nya tadi. Apakah iya aku harus melanjutkan ini dengan laki-laki yang menjadi ayah anak ku meskipun aku tidak mencintainya sama sekali dengan resiko aku akan kehilangan Chanyoel laki-laki yang sangat aku cintai selama ini. Atau aku harus tetap mempertahankan keegoisan ku untuk tetap bersama Chanyoel dengan resiko Ara yang akan kehilangan appa nya. Ottokee, bunuh saja aku.

bersambung chapter 2

ME and SM ENTERTAIMENT STORY ( chapter 1 )

ME and SM ENTERTAIMENT STORY ( chapter 1 )

“ oke done. Gomawoo..” seru sutrada Chan diikuti tepuk tangan para crew dan mamber yang merasa bahagia. Akhirnya selese juga kegiatan hari ini. Pukul 01.00 dini hari begitu aku lihat jam yang ada di pergelangan tangan ku. Hampir 15 jam sejak kita mulai shooting pembuatan MV hari ini.

“ mau langsung kita review take yang terakhir?” tanya sutrada Chan kepada ku.

“ boleh untuk meyakinkan kalau take terakhir benar-benar sempurna.” Balas ku kemudian mendekat kearah diaman sutradara Chan mengoprasikan kembali layar lcd ukuran 32 inci yang tadi digunakan untuk pengolahan hasil rekaman gambar. Dari tempat ku berdiri, aku melihat para member mulai berjalan mendekat kearah kami.

“ terimaksih karna sudah bekerja keras” samar-samar aku dengar Suho sang leader groub berkata dengan para crew yang saat ini mulai merapikan peralatan shooting.

Aku alihkan pandangan ku kembali pada layar yang kini telah memutar beberapa gambar yang telah direkam hari ini. Cukup bagus walaupun aku sendiri tidak terlalu suka bahkan puas dengan konsep yang ada. Terlalu sederhana dan terkesan apa adanya. Padahal aku sudah membuat konsep yang bahkan lebih spekta dari vidio taesar comeback yang telah di publish satu persatu mamber di berbagai kota di belahan dunia. Tapi yah aku bisa apa kalau oppa Jung tidak menyetujuinya.

“ bagaimana? Ada yang mau diulang lagi?” tanya sutrdara Chan yang kemudian sedikit mengagetkan ku dari lamunan tentang konsep MV hari ini.

“ aku rasa tidak, cukup lah. Nanti tinggal team hyung aja yang kembali bekerja keras untuk proses editingnya.” Blas ku diikuti senyum. Emm cengiran lebih tepatnya. Yah, aku bahkan tidak terlalu memperhatikan apa yang tadi diputar kembali. Hanya sekilas.

“ baiklah, hhaa. Terimakasih sudah ikut bekerja keras hari ini. Kau tetap idolaku pkoknya Juwita.” Balas sutrada Chen yang sepertinya tahu aku tidak terlalu berkonsentrasi hari ini. Aku hanya menjawab dengan acungan jempol disertai senyum seperti biasa. Aku dan sutradara Chen sudah terlalu sering bekerja sama untuk pembuatan sebuah MV artis artis yang kita miliki jadi dia paham betul bagaimana karakter ku.

“ segeralah pulang dan istirahat, aku lihat belakangan kau tampak lelah.” Tambahnya sambil menepuk pelang bahu kanan ku.

“ yah, sepertinya begitu hyung.” Aku mengambil ponsel yang dari beberapa jam yang lalu aku abaikan di meja sebelah sutradara Chen menaruh layar 32 inchinya. Ada banyak notification, namun aku tidak terlalu tertarik untuk membukanya. Hanya menatap layar saja, entah apa yang aku perhatikan.

“ nona, langsung pulang atau masih ada yang ingin dikerjakan disini?” tanya Suho tiba-tiba. Sempat sedikit mengagetkan karena aku masih fokus menatap ponselku sejak beberapa menit lalu setelah sutradara Chen pergi entah kemana.

“ oh, sepertinya langsung pulang. Whe?”

“ bareng kita?” yang ini Chanyoel. Kemudian anak anak yang lainnya ikut mendekat sambil berbagi air mineral yang diminum berjamaah.

“ iya, bareng kita aja noona. Sudah terlalu larut untuk pulang sendirian.” Rujuk sehun.

“ sepertinya enggak. Aku bawa mobil soalnya..”

“ ya, Juwita bisakah kau memberiku tumpangan ke kantor nanti?” seru sutrada Chen tiba-tiba sambil berlari kecil. Dia menghampiri kami sambil menahan nafasnya yang tidak teratur karena lari.

“ who? Apa yang ingin kau lakukan dikantor hyung? “ tanya ku heran.

“ aku ingin segera menyelesaikan proses editing sampai pagi ini. Presiden Jung sudah memintaku untuk segera menyelesaikannya. Barusan dia menelfon ku”

“ apa? Secepat itu? Bukankah hyung dan crew butuh isirahat setelah bekerja keras seharian ini.” Protes ku.

“ andwe, aku sudah berjanji dengan presiden kalau aku akan menyelesaikannya segera.”

“ tapi tidak langsung hari inii hyung. Perhatikan kesehatan kamu juga, masih ada deadline 1 hari bukan? Pulanglah, istirahat kemudian besok pagi lanjutkan pengeditanya.” Rengek ku.

“ besok jam 11 kita sudah meeting lagi, dan demi apapun aku yakin presiden akan menanyakan nya.”

“ apa? Meeting? Aku bahkan tidak dikasih tau.” Keluh ku kesal.

“ buka lah ponsel mu, presiden sudah berusaha menelfon kamu sejak tadi tapi tidak mendapat jawaban. Mungkin dia memberitahu mu melalui pesan singkat.”

Dan benar saja, aku langsung melihat pesan singkat, oh kenapa harus secepat ini. Ada apa sebenarnya? Keluhku strees.

“ baiklah, pakai mobil ku untuk kembali ke kantor. Maafkan aku hyung, aku terlalu lelah untuk menunggu mu menyelesaikan ini semua kemudian mengantar kan mu ke kantor.” Aku mengambil kunci mobil dari tas kecil yang tadi sudah aku tenteng dan siap untuk segera pulang.

“ aku akan pulang bersama van EXO.” Tambahku melirik kearah para mamber yang dari tadi menyimak obrolan aku dengann sutradara Chan.

“ gomawo. Pulanglah segera, istirahat.” Balasnya dan menerima kunci yang tadi aku berikan.

“ aku akan berusaha sebaik dan semampuku untuk memberikan yang terbaik untuk kalian.” Sutradara Chen menatap para mamber yang ada dihadapanya kemudian menatap ku.

“ ne. Gomawo hyung” balas anak-anak.

“ tetap jaga kesehatan mu hyung. Aku pulang.” Tambahku. Sejujurnya aku tidak tega melihat sutradara Chen, aku tahu dia cukup lelah hari ini namun masih akan melanjutkan pekerjaanya sampai pagi besok.

“ ne, berhati-hatilah di jalan. Kabari aku segera begitu sampai di apartemen. “ balas sutrada Chen sambil menyibakan poni ku ke belakang seperti biasa dan hanya aku balas dengan senyuman kemudian mulai berjalan diikuti anak-anak exo lainya.

“ terimakasih sudah bekerja keras hari ini. Aku pulang ya, kalian juga segera lah pulang begitu semua selesai. Tetap jaga kesehatan kalian.” Seru ku kepada para crew dan staff yang sampai saat ini masih setia menunggu hingga proses selesai.

“ ne noona, hati-hati” balas mereka. Aku hanya membalas dengan senyum dan melambaikan tangan kemudian tetap berjalan keluar meninggalkan basement yang disulap menjadi studio untuk shooting pembuatan MV comeback nya exo dengan single pertamanya call me baby itu. Ah, bicara soal comeback nya mereka bikin tambah lelah saja.

“ noona, apakah malam ini kamu akan tidur di dorm kami?” tanya chanyoel sambil cengengesan bercanda sama baekhyun seperti biasa.

“ andwe, aku akan pulang ke apartemen saja malam ini. Besok ada rapat di kantor soal album kalian jadi biar cepat lokasinya aku balik apartemen saja.” Jelas ku sambil terus berjalan. Jarak apartemen yang aku tempati memang lebih dekat dari gedung SM tempat aku bekerja dari pada dorm mereka.

“ oh begitu rupanya, padahal aku pengen noona tidur di dorm malam ini.” Rengek baekhyun.

“ tidur bersama kalian, berdesakan, berebut bantal bahkan selimut seperti yang kalian lakukan selama ini? Andwe andwe, sudah cukup kemaren itu yang pertama dan aku harap yang terakhir.” Ya, waktu itu aku pernah karena suatu alasan harus tidur di dorm mereka. Dorm kecil yang hanya meiliki 3 kamar sementara mereka ber sepuluh, aku harus memilih tidur di kamar siapa aku bingung. Atas kesepakan bersama akhirnya kita tidur bareng-bareng di ruang tengah dan itu menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan. Bukan apa-apa, aku biasa melakukannya dengan para oppa di dorm super junior dulu namun aman-aman saja situasinya. Semua bisa tidur dengan nyaman dan tenang. Namun bersama para mamber exo jadi tidak menyenangkan karena sifat kekanakan mereka. Sehun yang berebut bantal dengan kai, atau chanyoel dan baekhyun yang entah berisik membicarakan apa atau D.O yang berebut selimut dengan tao bikin tidur ku tidak nyaman.

Aku berhenti berjalan tiba-tiba. “ bekerja keraslah kalian tahun ini, aku akan mengajukan permohonan dorm baru ke perusahaan buat kalian.” Ucap ku.

“ Benarkah?” suho nampak senang mendengarnya diikuti para mamber yang lain.

“ ya, aku akan bekerja keras untuk album kedua kalian dan menghasilkan banyak uang untuk perusahaan kemudian mengajukan permohonan dorm baru buat kalian. Tapi kalian pun harus janji bahwa kalian akan dengan baik mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan.” Aku menatap tao yang dalam beberapa minggu ini nampak tidak sehat karena cidera kakinya kambuh lagi. Kehadirannya hari ini dalam pembuatan MV inipun tidak sepenuhnya dia ikuti, dia lebih banyak beristirahat dibanding teman-teman lainnya.

“ kecuali untuk tao, fokuslah untuk kesembuhan kamu terlebih dahulu. Setelah aku mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi mu, aku akan putuskan bisa atau tidak kamu mengikuti louncing dan promo album ini.” Tambah ku.

“ ne noona, aku akan berusaha keras untuk segera sembuh karena aku ingin sekali mengikuti setiap kegiatan yang dijadwalkan untuk promo album ini.” Ucap nya.

“ ne, baiklah. Ayo kita segera pulang.” Ajak ku dan kembali berjalan.

“ noona, “ pangil sehun lirih dan dengan cepat meraih tangan ku untuk digandeng.

“ hemm “ balas ku sambil tersenyum dan menatapnya. Diantara mamber yang lain, hanya dia yang berani memperlakukan ku seperti ini. Bergelayut manja di lengan atau tangan ku dan bahkan memeluku. Usianya yang terlalu muda bahkan lebih muda dari adik ku yang ada di Indonesia membuat aku suka mendapat perlakuan apapun darinya seolah-olah dia ini adik ku. Dan aku pun menganggapnya demikian, makanya tak jarang karena hal itu selalu memicu ke-iri-an para mamber lainnya terutama kai. Haa, dia sering protes kalau dia juga maknae jadi dia juga perlu bermanja-manjaan dengan para hyung nya atau dengan aku.

“ apakah noona baik baik saja dengan pemberitaan media beberapa hari ini?” tambahnya.

“ heemm, iya aku baik-baik saja. Kenapa?”

“ aku kawatir, seharian ini noona bahkan tampak tidak terlalu sehat. Apakah noona sakit?”

Aku tersenyum. “ andwe, aku baik-baik saja.”

***

Pukul 01.40 saat aku baru saja sampai apartemen dan segera mandi. Sudah sepagi ini bahkan masih ada beberapa wartawan yang dengan setia menunggu di lobby bawah untuk meminta statement ku. Aku bahkan harus memakai jaket super tebal dan tutup kepala yang dipinjamkan chanyoel untuk mengelabui para wartawan. Aku heran kenapa masih ada wartawan yang bisa masuk meskipun hanya di lobby apartemen ini sementara aku sudah membayar biaya cukup mahal untuk keamanan di sini. Bukankah aku memutuskan untuk membeli apartemen ini karena sistem keamanan yang sangat canggih dan ketat yang aku pikir tidak akan sembarang orang bisa masuk kesini termasuk wartawan.

Ya, aku Juwita Maharani. Gadis asli Indonesia yang sejak hampir 10 tahun lalu memutuskan untuk pergi ke Korea Selatan untuk bekerja dan disinilah sekarang aku bekerja. Di SM entertaiment. Aku pertama kali menginjakan kaki ku di Korea sejak umur 16 tahun selesai tamat sekolah menengah atas. Sejak SMA aku mengambil jurusan bahasa dan aku mempelajari bahasa korea serta Jepang selama 2 tahun. Ketika aku kelas XI, sekolah ku bekerja sama dengan salah satu SMA yang ada di Korea untuk melakukan progam pertukaran pelajar dan aku salah satu yang ikut dalam progam tersebut. Maka pergilah aku ke Korea saat itu selama 4 bulan. Dan sekembalinya dari Korea aku ingin sekali bisa kesana. Entah kebetulan entah rejeki entah apalah itu setelah aku lulus SMA, ada pendaftaran tenaga kerja indonesia yang akan dikirim ke Korea dan atas rekomendasi guru ku aku mengikuti pendaftaran itu dan mengikuti beberapa tes yang sampai akhirnya aku dinyatakan lolos untuk pergi bekerja disini. Pertama kali aku bekerja disini di suatu perusahaan advertaising yang saat itu bekerjasama dengan SM entertaiment dalam sebuah pembuatan iklan untuk promosi agency mereka. Dan entah rejeki atau apa, aku malah ditawarin untuk menjadi karyawan SM. Saat itu aku tidak terlalu paham SM itu perusahaan macam apa, yang aku tau hanya bergerak di industri hiburan saja. Bekerja di SM pun aku tidak langsung serta merta mendapat posisi seperti sekarang, aku hanya karyawan pembantu yang kerjaanya bantuin para staff yang sedang butuh bantuan sampai akhirnya aku bergabung dengan crew TVXQ sebagai wardrobe dan make up. Setelah itu tidak lama setelah super junior debut aku diminta untuk menjadi crew mereka sebagai stylis, kemudian diangkat sebagai staff keuangan khusus mereka kemudian street manager dan setelah kecelakaan tahun 2007 yang menewaskan manager mereka akhirnya aku diangkat menjadi manager super junior. Selama aku menjadi manager itulah, perkembangan ku semakin meningkat. Aku sempat dipercaya menangani single henry suju M yang berkolaborasi dengan Kyuhyun dan Taemin. Setelah dirasa oppa Lee Soo Min aku cukup berhasil, akhirnya 2013 aku dipercaya lagi terlibat dalam pembuatan mini album suju M breakdown dan aku sempat tinggal di Shanghai bersama suju M selama 7 bulan untuk promosi album mereka. Puncaknya 2014 ketika timbul konflik antara Super Junor dengan managemen, aku ditantang Lee soo Man untuk secara indiepanden membuat album comback Super junior yang ke tujuh dan saat itu juga aku terima tantangan tersebut. Aku bertindak sebagai manager dan produser dalam album ke tujuh mereka dengan biaya pribadi dan patungan dengan siwon oppa dengan catatan bahwa perusahaan tidak berhak mengambil keuntungan apapun dari penjualan album ke tujuh kita yang bertajuk MAMACITA. See, album kita meledak dan mendatangkan banyak keuntungan. Pada saat yang bersamaan, perusahaan dalam kondisi yang tidak terlalu baik. Di akhir tahun 2014 saham SM sangat anjlok akibat pemberitaan tentang di pecatnya Jesica SNSD dan gugatan yang dilayangkan Kris serta Luhan exo. Itu kenapa akhirnya perusahaan mulai berdamai dengan kami dan menawarkan kerjasama kembali sampai akhirnya muncul kesepakatan untuk repacage ulang album ke tujuh kita dengan titel “this is love”. Sampai sejauh itu kita cukup berhasil membantu perusahaan dan membuktikan bahwa kita masih punya pengaruh terhadap saham dan penghasilan SM. Namun dengan beberapa alasan bulan November akhirnya Lee Soo Man memutuskan keluar dari managemen dan menjual beberapa saham yang dimilikinya. Aku tidak membuang kesempatan tersebut, dengan penghasilan ku beberapa tahun terakhir dan dengan pundi-pundi yang aku dapat dari memproduseri MAMACITA aku mampu membeli 8% dari saham yang dijual oleh Oppa Lee Soo Man. Dengan persentase saham tersebut saat ini aku memiliki andil dalam setiap pengambilan keputusan di perusahaan yang saat ini telah di pimpin oleh oppa Kim Jung twan dengan Oppa Lee Soo Man tetap sebagai pemilik saham terbanyak. Aku dekat denga oppa Lee Soo Man, terlalu dekat bahkan aku sudah menganggapnya seperti ayah ku sendiri. Kebetulan aku sudah tidak memiliki ayah sejak SMP, dan beliau sendiri tidak memiliki anak perempuan jadi hubungan kami benar-benar tampak anak dan bapak. Terlebih sejak kematian istrinya beberapa tahun lalu, oppa sering merasa kesepian dan kala oppa kesepian biasanya dia mengajak ku sekedar berjalan di sungai Han jika aku hanya di Korea dan sedang tidak dalam kesibukan di luar Korea bersama Super Junior.

Aku menegakan posisi duduk ku yang ternyata kurang nyaman dari tadi. Ya sambil melepas lelah, saat ini aku sedang duduk menyandarkan punggung di sofa kesayangan ku dan menatap ke langit-langit dengan mata terpejam membayangkan apa yang barusa saja aku ceritakan. Aku sedikit terkejut ketika sesuatu menyentuh leherku kemudian mencium bahu kiri ku. Lee min hoo. Dia kah? Aku membuka mata dan menoleh ke sisi kiri ku dan benar dia menatap ku dengan senyuman khas nya dia.

“ hai sayang “ sapanya lembut seperti biasa. Aku masih acuh dan menegakan kembali posisi duduku kali ini tidak menyandarkan punggung ku kembali, aku sedikit maju dari posisi duduk ku sebelumnya.

“ hei, kenapa kamu se acuh ini. Aku baru kembali dari paris dan kita tidak bertemu selama hampir satu bulan. Apa kamu tidak merindukan ku?” tanya nya sambil menyandarkan dagunya di pundak kiri ku kemudian tangan kananya melingkar di perut ku.

“ apa yang kamu lakukan di Paris?” aku bertanya tanpa menoleh sedikit pun.

“ tentu saja kerja. Bukan kah aku sudah memberitahu mu aku di Paris ada pemotretan.”

“ Lalu apa yang kamu lakukan dengan Suzy?” nada suara ku mulai meninggi dan menatap tajam ke arahnya. Sepersekian detik dia tidak menjawab bahkan terkesan bingung dengan pertanyaan ku.

Ya, beberapa hari terakhir ini berita Korea sedang heboh dengan temuan netizen yang mendapatkan gambar Lee Min Hoo dan Suzy Miss A berjalan bergandengan tangan menuju sebuah hotel di London. Aku, yang semua orang di Korea bahkan mungkin luar Korea pun tau bahwa aku kekasih Lee Min Hoo seperti yang telah kita akui dua tahun lalu menjadi sorotan media dan dengan cepat mereka berbondong-bondong mencari ku serta meminta tanggapan tentang berita tersebut. Itu kenapa sehun dan sutradara Chan serta anak-anak exo lainya cukup kawatir dengan ku hari ini.

“ whe? Kenapa kamu menanyakan tentang Suzy?” tampak sekali dia cukup terkejut dengan pertanyaan ku. Aku mengambil ponsel di meja sebelah sofa yang aku duduki bersamanya saat ini dan memberikannya kepada dia.

“ baca berita korea har ini.” Kata ku dan beranjak meninggalkan dia yang saat ini tengah sibuk dengan ponsel ku yang barusan aku kasih ke dia. Aku berjalan ke depan menuju jendela kaca yang besar dan berdiri menatap suasana kota di tengah malam seperti ini, masih cukup ramai.

“ ada yang ingin kamu jelaskan tentang berita itu?” tanya ku kemudian.

“ ah, itu rupanya yang membuat beberapa hari ini kamu susah dihubungi?” dia berjalan mendekat dan memeluk ku kembali dari belakang kemudian meletakan dagunya di pundak kanan ku seperti biasa.

“ sayang, kamu percaya dengan berita itu?”

“ lalu aku harus bagaimana?”

“ aku memang ke London setelah selesai pemotretan. Rencana ku aku hanya menyusul omma yang sedang ada disana, tapi disana aku bertemu dengan Suzy yang ternyata menginap di satu hotel yang sama dengan omma. Suzy pun sedang ada pemotretan di london, karena kita satu managemen jadi tidak mungkin aku tidak mengenalnya dan mnegacuhkan nya begitu saja.” Terangnya.

“ dengan bergandengan tangan seperti itu?” selidik ku.

“ lihat kembali gambarnya dan perhatikan, dia yang menggandeng ku bukan aku. Aku pikir dia ketakutan saat menyebrang jalan menuju hotel yang saat itu ramai, jadi dia menggandeng ku. Dan aku pikir aku laki-laki dewasa yang harus memiliki jiwa heroik untuk membantunya.” Dia menjelaskan. Akupun tidak bisa membalasnya, hanya diam. Entahlah dia selalu bisa membuatku bertekuk lutut dihadapanya. Aku terlalu mencintainya, takut kehilanganya dan mendngar penjelasanya barusan membuat ku sedikit lega. Semoga apa yang dia ucapkan benar. Media memang sedang menyoroti hubungan kami sejak pernyataan tidak setuju atas hubungan ku dangan Lee Min Hoo terjalin dari ayah Min Hoo sendiri beberapa bulan lalu. Ditambah ada isu seperti ini, semakin membuat media senang membicarakan hubungan kami.

“ ada lagi yang ingin kamu tau?” tanya nya mengeratkan pelukan.

“ memang masih ada lagi yang tidak aku tau?” aku menoleh dan melepaskan pelukannya. Dia hanya tersenyum dan menariku kembali ke dalam pelukannya dan semakin mendekatkan tubuhnya. Kita berhadapan sekarang.

“ tidak sayang. Kau tahu segalanya, luar dan dalamnya diri ku.”

“ aku ..”

“ aku mencintai mu” balasnya sebelum aku menyelesaikan kalimat ku dan dengan cepat mendaratkan ciuman hangat ke bibir ku. Seolah dia selalu tau apa yang ingin aku ucapkan, dia selalu memotongnya dan tidak pernah membiarkan aku menyelesaikan kalimat itu “ aku mencintaimu”. Dia tidak pernah membiarkan aku sampai tuntas mengucapkan itu seolah-olah dialah yang tergila-gila pada ku.

“ hey, kamu capek?” tanya nya. Dia menghentikan ciumannya aku rasa karena aku sama sekali tidak merespon dan membalas ciuman itu.

“ ne, aku capek.”

“ baiklah, segeralah istirahat. Aku akan menyusul mu begitu aku selesai mandi.”

“ kamu tidur di sini malam ini?”

“ ya. Kenapa? Apakah aku harus keluar dan turun ke lantai bawah lagi?”

Aku tersenyum. “ andwe. Pergilah mandi, aku akan menunggu mu.”

Dia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju koper yang bahkan aku tidak menyadari keberadaanya dari tadi. Aku lupa kalau dia baru saja datang dari Paris dan dia pasti langsung menuju apartemen ku begitu sampai bandara.

Ya, kita memang sudah biasa tidur bersama. Kita tinggal di satu gedung apartemen yang sama. Dia ada di tower sebelah lantai 8 sementara aku di lantai 18. Hal itu kita siasati karena jadwal kita yang terlalu rapat susah untuk bertemu di jam-jam produktif. Kalau kita pas lagi sama-sama ada di Korea dan aku tidur di apartemen bukan di dorm super Junior biasanya dia menyusul ke apartemen ku dan kita menghabiskan waktu bersama tengah malam. Tidak selalu berakhir di tempat tidur, kadang kita hanya sekedar ngobrol sambil menikmati indahnya kota seoul tengah malam dari balik jendela kaca besar di ruang tengah seperti tadi.

***

Bersambung ke chapter 2